Setting Handy Cache Full Youtube Saver

Salam, Buat Owner Warnet  yang mau irit banwidht  ada bisa memasang Program cache untuk menyimpan data yang sebelumnya pernah dibuka oleh Client dan suatu saat Client tersebut ingin membukanya kembali tidak lagi memerlukan Banwidht Internet, Begitu Load langsung Terbuka, Dan untuk Youtube Tanpa Buffering Lagi, Langsung FULL progres pemutaran Video nya,


Untuk mendownload Handy Chache dan Setingan nya Silahkan Klik Link Dibawah Ini

DOWNLOAD HANDY CACHE

Programnya Gratis !!
Biaya Setting nya RP. 15.000 Per PC ( Server & Client ) ,
Untuk daerah luar Sumatera Akan saya Seting Melalui TEAM VIEWER

DOWNLOAD TEAM VIEWER

Untuk lebih lanjut bisa menghubungi saya lewat Telpon & SMS

0822 7506 3834
Ady Setiawan

REK BRI : 7714 0100 2123 537 a/n Jumadi Setiawan

Pengertian Digital Terlengkap dan Contohnya

BAB I 
  •   Pengertian Digital Kata Digital berasal dari kata Digitus, dalam Bahasa Yunani yang berarti jari-jemari. Apabila jari-jemari seseorang dihitung, maka akan berjumlah sepuluh (10). Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0. Oleh karena itu digital merupakan penggambaran dari suatu kondisi bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau OFF dan ON (sistem bilangan biner), dapat juga disebut dengan istilah Bit (Binary Digit). Semua sistem komputer menggunakan sistem digital sebagai basis datanya. Peralatan canggih, seperti komputer, pada prosesornya memiliki serangkaian perhitungan biner yang rumit. Dalam gambaran yang mudah, proses biner adalah seperti saklar pada lampu, yang memiliki 2 keadaan, yaitu OFF (0) dan ON (1). Pada kondisi saklar lampu yang ditekan (tombol ON), maka lampu akan menyala & ruangan akan tampak terang, tapi sebaliknya jika saklar lampu tidak ditekan (tombol OFF), maka lampu tidak menyala & ruangan tampak gelap. Misalnya ada 20 buah lampu dan saklar, jika saklar itu dinyalakan dalam posisi A, maka ia akan membentuk gambar bunga, dan jika saklar itu dinyalakan dalam posisi B, maka ia akan membentuk gambar hati. Begitulah kira-kira biner digital tersebut. Konsep digital ini ternyata juga menjadi gambaran pada pemahaman suatu keadaan yang saling berlawanan. Sirkuit elektronik adalah rangkaian listrik yang memakai komponen-komponen elektronika aktif, seperti transistor dan sirkuit terpadu (IC atau chip).  
  • Rangkaian atau sirkuit elektronik bisa bersifat sangat kompleks, walaupun sirkuit ini memakai prinsip dasar yang sama seperti pada sirkuit listrik biasa. Sirkuit elektronik biasanya dikategorikan menjadi tiga bagian: rangkaian analog, rangkaian digital, dan rangkaian kombinasi di antaranya. Rangkaian elektronik analog berkaitan dengan sinyal yang berubah secara kontinyu (halus atau sedikit demi sedikit) sesuai dengan informasi yang dikandungnya. Beberapa peralatan elektronik seperti penguat daya (power amplifier), tunner, radio, dan televisi menggunakan sinyal analog terutama di bagian penguat depan (pre-amp) dan bagian penguat akhirnya. Komponen utama dalam rangkaian elektronik analog adalah komponen pasif (seperti resistor, kapasitor, induktor, dan transformator), dan komponen aktif (seperti transistor, dioda, FET, CMOS, dll). Sinyal analog sebenarnya adalah istilah yang digunakan dalam ilmu teknik (terutama teknik elektro, teknik informasi, dan teknik kendali), yaitu suatu besaran yang dapat berubah dalam waktu dan atau ruang, dan mempunyai semua nilai untuk untuk setiap nilai waktu (dan atau setiap nilai ruang). Digunakan juga istilah sinyal kontinyu, untuk menggambarkan bahwa besaran itu mempunyai nilai yang kontinyu (tak terputus). Contoh sinyal analog adalah sinyal elektrik yang dihasilkan oleh peralatan elektrik non-digital. Pada rangkaian elektronik digital, sinyal listrik yang dipakai akan berubah secara diskrit (tinggi atau rendah) sesuai dengan nilai logika (1 atau 0) dari informasi yang akan diproses. Rangkaian elektronik digital adalah rangkaian elektronika yang tersusun dari berbagai komponen elektronika yang membutuhkan aliran daya listrik untuk menggerakkan atau membuat komponen tersebut berfungsi. 
  • Biasanya komponen elektronika dalam rangkaian digital ini dirancang hanya memiliki dua keadaan, yaitu logika 1 (high, active, true) dan logika 0 (low, non-active, false). Rangkaian elektronika yang menggunakan sinyal digital ini di antaranya adalah gerbang logika, jam digital, kalkulator, PDA (Personal Data Assistant atau komputer saku), mikroprosesor, dan komputer. Rangkaian elektronik kombinasi adalah rangkaian elektronik yang mengandung kedua macam tersebut, yaitu sinyal analog dan sinyal digital. Beberapa contoh rangkaian yang menggunakan kedua macam sinyal ini adalah pembanding (comparators), penghitung (pencacah atau timers), ADC (Analog to Digital Converter), dan DAC (Digital to Analog Converter). BAB II SISTEM DIGITAL Pengertian : Sistem Digital (Sistem Logika) adalah suatu kumpulan elemen-elemen yang saling ber–INTER–AKSI dan yang dapat “MENGOLAH” (mem–PROSES) informasi, meng-KOMUNIKASI-kan informasi dan yang dapat “MENYIMPAN” (memory) informasi yang dinyatakan dalam bentuk Diskrit (Digit). Sistem Digital dapat digambarkan dalam bentuk blok sbb: Semua “Informasi” pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu : 
  • 1. Informasi DISKRIT (digit) 
  • 2. Informasi KONTINU (analog) 
  •  Reprisentasi Sistem Analog : suatu kuantitas yang dinyatakan dengan kuantitas lain, yang setiap perubahanya adalah kontinu. • Reprisentasi sistem Digital : Kuantitas yang dinyatakan dengan kode/simbol, yang diwujudkan dalam kuantitas diskrit. Setiap perubahan menghasilkan kuantitas yang tidak sepadan dan tidak kontinyu, langkah demi langkah. Contoh : Informasi DISKRIT (digit) berupa angka-angka hasil pengamatan di laboratorium : 1A, 2A, 3A, 4A, 3A, 2A, 1A. Informasi KONTINU (analog) berupa kurva (grafik) yang dihasilkan dari angka-angka pengamatan di laboratorium yang saling dihubungkan. Jadi angka-angka hasil pengamatan disini merupakan informasi bentuk digit, sedang hasil pengamatan yang berbentuk kurva merupakan informasi bentuk Analog. Didalam sistem elektronik, informasi yang berbentuk DISKRIT (digital) biasanya dinyatakan dalam besaran ARUS (atau Tegangan) Listrik, Harga yang berbeda dari parameter ARUS (Teg) dipakai untuk menyatakan masing-masing digit. Untuk me-MINDAHKAN informasi dari satu TITIK A ke TITIK B diperlukan kawat penghubung. 
  •  Apabila masing-masing kawat dari segerombol kawat mentramisikan Satu-Digit dari informasi disebut Komunikasi Pararel 
  • Apabila satu kawat dipakai untuk mentramisikan Semua-Digit dari informasi secara ber URUTAN disebut KOMUNIKAI-SERI CATATAN : Informasi berupa KODE : 101011101 Didalam KOMPUTER, informasi hanya ditulis dalam bentuk peng-KODE-an yang mengenal hanya 2 simbol “0” dan “1”  Sehingga informasi dibentuk dari digit-digit tersebut, misalnya informasi berbentuk 1010111101  bentuk BINER Karena mengkomunikasikan informasi perlu WAKTU  Jelas diperlukan sarana yang dapat Menyimpan informasi tersebut  alat penyimpan informasi ini didalam sistem Digital disebut LATCH – Flip – Flop yang membentuk suatu REGISTER (Jaringan Memory). PENGOLAHAN-INFORMASI merupakan pembentukan Informasi Baru dengan mengubah informasi yang masuk sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan (baku), contoh pengolahan informasi ini adalah “OPERASI-ARITMATIK” Rangkaian digital hanya bekerja dalam bentuk KODE-BINER (binary) yaitu hanya MENGENAL  dua keadaan. OUTPUT ranagkaian hanya ada  Teg Rendah atau Teg Tinggi dan tidak ada harga tegangan lain, Harga PASTI Teg Output tidak penting, yang PERLU tegangan dapat dibedakan RENDAH atau TINGGI. DUA-KEADAAN output rangkaian digital tersebut dinyatakan dengan simbol “0” dan “1”, adi “0”  Tegangan Rendah Sistem Logika “1”  Tegangan Tinggi Positif “0”  Tegangan Rendah Sistem Logika “1”  Tegangan Tinggi Negatif Disebut Sistem Logika KARENA mereka dapat dianalisa dengan pertolongan matematika ALJABAR BOOLE  merupakan matematika teknik yang dipakai untuk masalah LOGIKA.
  •  Dalam sebagian besar Rangkaian Logika (digital)  dioda, transistor dipakai sebagai komponen Switch untuk merubah dari Satu-Keadaan (satu tingkat tegangan ) ke Lain-Keadaan (ke lain Tegangan). Karena Switch dapat dibuka (off) dan di Tutup (on)  Dua keadaan output rangkaian logika dapat dirancang sebagai keadaa “off” dan keadaa “on”. Untuk sistem logika positif  dua keadaan ini sesuai dengan keadaan “1” dan “0”. Aplikasi rangkaian Logika /digital sangat luas terutama dalam bidang komputer digital, namun juga dapat dipakai dalam komunikasi, transfortasi, kedokteran, otomatisasi industri, sistem kontrol dll. SISTEM BILANGAN Informasi didalam komputer ber-BentukKode dlam bilangan BINER sehingga perlu mengenal sistem-sistem bilangan serta cara transformasinya BASIS atau RADIK Ada macam-macam sistem bilangan, masing-masing sistem bilangan tersebut dibatasi oleh Basis atau Radik (radix): yaitu banyaknya angka atau digit yang digunakan. Secara umum sistem bilangan dapat dirumuskan sebagai berikut : N = Bilangan dn = Posisi digit bilangan R = Radik bilangan. 
  • 1. SISTEM BILANGAN DESIMAL/ DASAN Sistem bilangan ini mempunyai radix/ digit 10, sehingga mempunya 10 kode/simbol, yaitu : 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9. Bobot Bilangan Desimal • MSD  Most Significant Digit, yaitu digit yang mempunyai bobot paling besar. 
  •  LSD  Least Significant Digit, yaitu digit mempunyai bobot paling kecil Contoh : bilangan desimal 256 2 menyatakan harga ratusan (= 200) 5 menyatkan harga puluhan (=50), 6 menyatakan harga satuan (= 6). Jika diuraikan sbb: 256(10) = (2 x 102) + ( 5 x 101) + (6 x 100) = (2 x 100) + (5 x 10) + (6 x 1) Dengan demikian nampak bahwa posisi digit 2 paling besar, sedang digit 6 paling kecil, maka 2  MSD, 6  LSD. Catatan : Sitem bilangan Desimal sangat sulit diterapkan dalam perancangan sistem digital, karena sulit untuk membuat interval tegangan sampai 10 tingkatan, sehingga lebih akurat menggunakan sistem Biner karena hanya ada dua tingkatan dan mempunyai dua kode 0 dan 1 
  • 2. SISTEM BILANGAN BINER. Sistem bilangan Biner mempunyai digit/ radik/basis dua, sehingga mempunyai dua kode yaitu : 0 dan
1. Keuntungan menggunakan sistem bilangan Biner dapat diwujudkan oleh besaran elektrik. Sehingga dapat dengan mudah mengetahui nilei elektrik dari bilangan desimal biasa, bahkan juga kata-kata yang berupa perintah maupun informasi, setelah semua bilangan disandi dalam bilangan biner tersebut. Contoh : Bilangan Biner 101101 ( 6 Bit) 101101(2) = (1 x 25) + (0 x 24) + (1 x 23) + (1 x 22) + (0 x 21) + (1 x 20) = (1 x 32) + (0 x 16) + (1 x 8) + (1 x 4) + (0 x 2) + (1 x 1) Dari sini dapat kita lihat bahwa digit 1 paling kanan mempunyai bobot paling kecil (LSB).
2. Sedang paling kiri mempunyai bobot paling besar (MSB). Konversi dari bilangan Biner ke bilangan Desimal Contoh : 1. 1011001(2) = ……………(10) 
Solusi : 1011001(2) = (1 x 26) + (0 x 25) + (1 x 24) + (1 x 23) + (0 x 22) + (0 x 21) + (1 x 20) = 64 + 0 + 16 + 8 + 0 + 0 + 1 = 89(10) = 89 2. 11011,11(2) = …………….(10) 
 Solusi : 11011,11(2) = (1 x 24) + (1 x 23) + (0 x 22) + (1 x 21) + (1 x 20) + (1 x 2-1) + (1 x 2-2) = 16 + 8 + 0 + 2 + 1 + 0,5 + 0,25 = 27,75(10) = 27, 75 
Konversi Desimal ke Biner 
Contoh : 1. 45(10) = ………………(2) 
Solusi : 45 : 2 = 22, sisa 1 LSB jadi 45(10) = 101101(2) 22 : 2 = 11, sisa 0 11 : 2 = 5, sisa 1 5 : 2 = 2, sisa 1 2 : 2 = 1, sisa 0 1 : 2 = 0, sisa 1 MSB 2. 23,75(10) = ……………(2) 23 : 2 = 11, sisa 1 LSB 0,75 x 2 = 1,5 = 0,5 ; dengan bawaan nilai 1 MSB 11 : 2 = 5, sisa 1 0,5 x 2 = 1,0 = 0 ; dengan bawaan nilai 1 LSB 5 : 2 = 2, sisa 1 2 : 2 = 1, sisa 0 Jadi 23,75(10) = 10111,11(2) 1 : 2 = 0, sisa 1 MSB 
3. SISTEM BILANGAN OCTAL Bilangan Octal hanya menggunakan delapan digit (Radik = 8), yaitu : 0 1 2 3 4 5 6 7. Dengan demikian bilangan Octal tidak pernah mempunyai angka 8, kecuali untuk menunjukan radiknya. Sistem bilangan Octal tidak digunakan dalam operasi aritmatik, melainkan untuk memendekan/ menyandi bingan Biner. Konversi Octal ke Desimal Contoh :
1. 543(8) = …………….(10) 543(8) = (5 x 82) + (4 x 81) + ( 3 x 80) = 320 + 32 + 3 = 355(10) = 355 
2. 65,64(8) = ……………(10) 65,64(8) = (6 x 81) + (5 x 80) + (6 x 8-1) + (4 x 8-2) = 48 + 5 + 0,75 + 0,0625 = 53,8125(10) = 53,8125 
Konversi Desimal ke Octal 
Contoh : 243(10) = ……………..(10) 243 : 8 = 30, sisa 3 LSB Jadi 243(10) = 363 (8) 30 : 8 = 3, sisa 6 3 : 8 = 0, sisa 3 MSB Konversi Biner ke Octal Contoh : 1. 101110011(2) = …………..(8) Cara I, Biner Desimal Octal 101110011(2) = (1 x 28) + (0 x 27) + (0 x 26) + (1 x 25) + (1 x 24) + (0 x 23) + (0 x 22) + (1 x 21) + (1 x 20) = 307 (10) 307 (10) = 563(8) Cara II, Perhatikan bobot bilangan Biner ……..24 , 23 , 22 , 21 , 20 16 , 8 , 4 , 2 , 1 sedang Sistem Octal kede paling tinggi adalah 7, jadi yang memungkingkan digunakan adal 4 , 2 , 1 karena 4 + 3 + 1 = 7. Jadi untuk merunak Biner ke Octal sebagai berikut : Maka 101110011(2) = 101 110 011(2) = 5 6 3 (8) = 563(8) Keterangan : 101 = (1 x 4) + (0 x 2) + ( 1 x 1) = 4 + 0 + 1 = 5 110 = (1 x 4) + (1 x 2) + ( 0 x 1) = 4 + 2 + 0 = 6 011 = (0 x 4) + (1 x 2) + ( 1 x 1) = 0 + 2 + 1 = 3 Konversi Octal ke Biner. Contoh : 347(8) = ………….. (2) Caranya : Setiap satu Digit Octal dirubah menjadi 3 Bit Biner. 347(8) = 011 100 111 = 011100111(2) Keterangan : 3 = (0 x 4) + (1 x 2) + (1 x 1) = 011 4 = (1 x 4) + (0 x 2) + (0 x 1) = 100 7 = (1 x 4) + (1 x 2) + (1 x 1) = 111 
3. SISTEM BILANGAN HEXSADESEMAL Sistem bilangan heksadesimal mempunayai basis/radik/base 16, sehingga mempunya 16 lambang/kode, yaitu : 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D F. Sistem bilangan ini digunakan untuk menyandi / memendekan sistem bilangan biner. Salah satu bidang pengembangan yang paling luas dewasa ini adalah mikrokomputer. Pada saat anda memprogram, menganalisa maupun memeriksa sebuah mikrokomputer, Anda akan membutuhkan bilangan heksadesimal. Perhatikan Tael dibawah ini : Desimal Heksadesimal Biner Octal Desimal Heksadesimal Biner Octal 0 0 0000 0 8 8 1000 10 1 1 0001 1 9 9 1001 11 2 2 0010 2 10 A 1010 12 3 3 0011 3 11 B 1011 13 4 4 0100 4 12 C 1100 14 5 5 0101 5 13 D 1101 15 6 6 0110 6 14 E 1110 16 7 7 0111 7 15 F 1111 17 Konversi Heksadesimal Ke Biner Caranya : Perhatikan kembali bobot bilangan Biner setiap satu Digit Heksadesimal dikonversi menjadi 4 bit Biner… 24 , 23 , 22 , 21 , 20 16 , 8 , 4 , 2 , 1 sedang bilangan Hek kode paling tinggi adalah F = 15, maka yang memungkinkan menggunkan 4 Bit yaitu 8 4 2 1 karena jika dijumlah sama dengan 15. Dengan demikian untuk mengkonversi dari bilangan heksa ke desimal dengan cara sbb : setiap satu digit heksa dirubah menjadi 4 bit biner. 
Contoh : 1. 4A7 (16) = ………………(2) 4A7 (16) = 0100 1010 0111(2) = 01001010011(2) = 1001010011(2) Keterangan : 4 = (0 x 8) + (1 x 4) + (0 x 2) + (0 x 1) = 0100 A= (1 x 8) + (0 x 4) + (1 x 2) + (0 x 1) = 1010 7 = (0 x 8) + (1 x 4) + (1 x 2) + (1 x 1) = 0111 2. 945,2B(16) = ……………….(2) 945,2B(16) = 1001 0100 0101 , 0010 1011 (2) = 100101000101,00101011 (2) Konversi Biner Ke Heksadesimal Caranya : Kelompokan bilangan biner menjadi 4 bit dari bobot paling rendah atau dari komah jika terdapat komah (lihat contoh 2), kemudian setiap 4 Bit Biner dirubah menjadi satu digit Heksadesimal dengan aturan 8421 Contoh : 1. 11101110001110(2) = 11 1011 1000 1110(2) = 0011 1011 1000 1110(2) = 3B8E(16) 3 B 8 E 2. 110011101, 111001(2) = 1 1001 1101 , 1110 01(2) = 0001 1001 1101 , 1110 0100(2) = 19D,E4(16) Konversi Heksadesimal Ke Octal Caranya : Setiap satu digit Heksadesimal dirubah menjadi 4 bit Biner dengan aturan 8421, kemudian setiap 3 bit Biner dirubah menjadi satu digit Octal dengan aturan 421. Contoh : 1. A3BF(16) = 1010 0011 1011 1111(2) = 1 010 001 110 111 111(2) = 001 010 001 110 111 111(2) = 1 2 1 6 7 7 (8) = 121677(8) , Jadi A3BF(16) = 121677(8) 2. BA,C3(16) = 1011 1010 , 1100 0011(2) = 10 111 010, 110 001 1(2) = 010 111 010, 110 001 100(2) = 2 7 2 , 6 1 4(8) = 272,61(8) Konversi Octal Ke Heksadesimal Caranya : Setiap digit Octal dikonversi dulu menjadi 3 bit Biner(dasar 421), kemudian setiap 4 Bit Biner di Konversi menjadi satu digit Heksadesimal(dasar 8421). Contoh : 1. 4567(8) = …………….(16) 4765(8) = 100 111 110 101(2) = 1001 1111 0101 (2) = 9F5(16) 2. 751,436(8) = 111 101 001, 100 011 110(2) = 1 1110 1001, 1000 1111 0 (2) = 0001 1110 1001 , 1000 1111 (2) = 1E9 , 8F(2)

Makalah Konflik


MENUJU KEHIDUPAN HARMONIS DALAM MASYARAKAT YANG MAJEMUK: Suatu Pandangan Tentang Pentingnya Pendekatan Multikultur dalam Pendidikan  di Indonesia

A.     Latar Belakang


Sebagai sebuah negara yang masyarakatnya majemuk, Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, adat-istiadat, golongan , kelompok dan agama, dan strata sosial. Kondisi dan situasi seperti ini merupaka suatu kewajaran sejauh perbedaan-perbedaan ini disadari keberadaannya dan dihayati. Namun ketika perbedaan-perbedaan tersebut mengemuka dan kemudian menjadi sebuah ancaman untuk kerukunan hidup, maka perbedaan tersebut menjadi masalah yang harus diselesaikan.
Beberapa peristiwa amuk massa di beberapa daerah di Indonesia, terlihat jelas pemicunya adalah perbedaan-perbedaan tersebut, dimana salah satunya adalah perbedaan agama. Seperti kerusuhan di lampung, tahun 1989; kerusuhan di Timor-Timur, tahun 1985, kerusuhan di Rengasdengklok, tahun 1997; kerusuhan di makassa, tahun 1997, Kerusuhan di Ambon, 1998, di Poso, kerusuhan Ketapang dan  Kupang serta beberapa daerah lainnya.
Perubahan sosial yang terjadi di Indonesia sekarang ini, memungkinkan sekali untuk terjadinya konflik antar agama atau konflik antar umat beragama. Walaupun sebenarnya secara laten konflik-konflik tersebut telah ada jauh sebelum era reformasi berembus. Banyak sekali kejadian yang bernuansa perbedaan agama terjadi. Seperti peristiwa pembakaran kantor Tabloid Monitor di Jakarta, yang disangka mendiskreditkan Nabi Muhammad Saw, begitu juga Tabloid Senang. Lain dari itu, brosur-brosur , leaflet-leaflet yang mendiskreditkan agama tertentu, serta materi-materi dakwah yang memicu dan memacu kemungkinan  terjadinya konflik antar agama juga kerap sekali terjadi. Banyak pemuka agama yang dengan dalih sedang melakukan konsolidasi umat, mereka rela dan berani  mendiskreditkan umat penganut  agama lainnya. Terakhir isue tentang pendidikan agama di sekolah yang mewajibkann setiap sekolah menyediakan pengajar agama bagi siswa-siswi yang beragama tertentu.
Konflik yang bernuansa agama berkorelasi kuat dengan faktor non agama. Beberapa konflik yang terjadi membuktikan hal tersebut, termasuk konflik Ketapang. Agama biasanya merupakan faktor pemicu kerusuhan, yang sebelumnya didahului dengan konflik yang bernuansa ekonomi, seperti rebutan lahan parkir, rebutan wilayah dan faktor lainnya yang lebih ekonomis dari pada politis. Dengan kata lain, sebenarnya, konflik kecil acap terjadi.
Dalam melihat konflik dan potensi konflik antar kelompok, golongan dan agama di Indonesia, perlu dipahami sebagai suatu hal yang dinamis. Perubahan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia yang begitu cepat, terutama setelah era reformasi, juga turut memperkuat polarisasi konflik sosial termasuk konflik antar kelompok umat beragama. Kesenjangan yang makin menganga  antar kelompok sosial dan biasanya kelompok sosial ini juga acap dilekatkan dengan penganut agama mayoritas. Keterbelakangan dan pembaruan yang tidak simultan dapat memperkeruh suasana disharmoni, serta dapat merusak tatanan sosial atau tatanan hubungan antar kelompok sosial dan antar kelompok umat beragama.
Masyarakat Indonesia yang multikultur, multi ras dan multi agama, memiliki potensi yang besar untuk terjadinya konflik antar kelompok, ras, agama dan suku bangsa. Indikasi ke arah itu terlihat dari tumbuh suburnya berbagai organisasi kemasyarakatan , profesi, dan organisasi lainnya. Contoh seperti FPI, Laskar Jihad, FBR dan kelompok lainnya yang berjuang dan bertindak atas nama kepentingan kelompoknya atau kepentingan lainnya. Lain dari itu muncul juga berbagai macam aliran keagamaan.
Beragam kelompok ini secara sosial menyebabkan tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai baru melalui berbagai proses yang menuntut adanya institusionalisasi kepentingan. Tapi juga dapat berupa munculnya konflik-konflik baru, karena kelompok lain, golongan lain, agama lain, merasa bahwa kehadiran mereka menjadi ancaman bagi tatanan masyarakat yang sudah ada dan ajeg serta kepentingan dari kelompok lainnya. Yang berkembang adalah sikap etnosentrisme, yang menganggap hanya kelompoknya saja, golongannya saja yang paling baik dan sempurna, sementara yang lain jelek, salah, dan berbagai kekurangan lainnya(Zastrow, 2000, 157);  serta  stereotipe, yang mengembangkan gambaran tentang tipe-tipe masyarakat tertentu dengan  karakteristik tertentu. Misalnya orang Batak itu kasar; orang Padang itu licik, orang Sunda itu lelet dan lain-lain.
Perbedaan-perbedaan kepentingan, pandangan, nilai akan menimbulkan perbedaan persepsi atas sesuatu yang kemungkianan besar akan menyebabkan munculnya reaksi berdasarkan persepsi tersebut terhadap sesuatu itu. Hal ini dapat dan menimbulkan konflik yang mungkin akan bermuara pada kerusuhan. Beberapa peristiwa konflik antar kelompok, golongan, ras dan agama, menunjukkan hal-hal tersebut. Lihat saja konflik Ketapang  yang kemudian melebar ke beberapa tempat di Jakarta, Bekasi bahkan Ambon , Kupang dan Poso.
Hal itu menunjukkan bahwa sentimen dan kepercayaan yang berlebihan tentang keyakinan masyarakat terhadap salah satu kelompok, golongan dan atau agama akan menimbulkan konflik, baik yang bernuansa sosil-ekonomi, politik maupun agama. Bukti ini juga sekaligus menunjukkan  bahwa potensi konflik itu ada diberbagai bidang. Oleh karena itu  perlu adanya upaya yang simultan  dilakukan agar konflik yang potensial tersebut  dikelola secara seksama , baik oleh pemerintah daerah, masyarakat maupun aparat penegak hukum. Yang tidak kalah pentingnya adalah peranan lembaga pendidikan dan proses pembelajaran yang terjadi di dalamnya. Bahkan kita semua perlu bertanya ada apa dengan sistem pendidikan kita ? Mengapa sebagaian masyarakat Indonesia mudah sekali untuk melakukan kerusuhan ? Bagaimana model pendidikan yang dapat menghindari terjadinya konflik sosial ?

B.     Kemajemukan Indonesia dan Konflik Sosial


Sebuah masyarakat yang majemuk didalamnya akan terkandung berbagai kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang adat istiadat, budaya, agama dan kepentingan . Seperti yang disampaikan oleh Furnival bahwa masyarakat majemuk (plural societies) adalah suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu dengan lainnya di dalam suatu kesatuan politik (Nasikun, 1986, hal 31). Masyarakat yang majemuk biasanya menghadapi tantangan ketidakharmonisan dan perubahan yang terus menerus. Sedangkan menurut Piere L. van Berghe, masyarakat majemuk memiliki sifat dasar sebagai berikut  (Nasikun, 1985, hal 67-68 dan Nitibaskara, 2002, hal 7) :
1.      Terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok –kelompok  yang sering kali memiliki kebudayaan, atau lebih tepat sub-kebudayaan, yang  berbeda satu sama lain.
2.      Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer.
3.      Di antara anggota masyarakat kurang mengembangkan konsensus atas nilai-nilai sosial dasar.
4.      Secara reaktif sering kali terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
5.      Secara reaktif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi
6.      Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.

Melihat definisi Furnival dan karakteristik yang diajukan oleh Berghe, telihat bahwa masyarakat Indonesia memilki karakteristik seperti itu. Memang secara vertikal maupun horizontal, masyarakat kita masyarakat yang paling majemuk di Dunia, selain Amerika  Serikat dan India. Kemajemukan ini menurut Nasikun (1985, hal 38-44) terjadi karena : Keadaan geografis, dengan beribu-ribu pulau; Indonesia terletak di antara Samudra Indonesia dan Pasifik, sangat mempengaruhi terciptanya pluralitas agama di dalam masyarakat Indonesia; Iklim yang berbeda dan struktur tanah yang tidak sama diantara berbagai daerah di kepulauan Nusantara ini.
Dalam masyarakat yang majemuk, seperti Indonesia, yang terdiri dari bebagai suku bangsa, ras, agama, kelompok dan golongan , masalah pengintergrasian kelompok-kelompok tersebut merupakan masalah yang pelik. Oleh karena itu diperlukan kemampuan untuk memenej konflik tersebut, supaya dapat menghasilkan perubahan sosial ke arah yang lebih baik dan tidak destruktif. 
Konflik dapat terjadi melalui beberapa fase. Fase-fase  terjadinya konflik kekerasan adalah sebagai berikut (Nitibaskara, 2002, hal 50-53) :
Fase pertama, tahap pendahuluan. Pada fase ini, faktor struktural telah menjadi lahan subur yang kondusif untuk meledaknya konflik kekerasan antar-etnis. Hanya seidikit orang yang memahami secara sadar keadaan yang berkembang …Jika tahap ini gagal ditanggulangi maka realitas sosial memasuki fase kedua . Tahap kedua adalah tahap titik didih. Pada tahap ini, faktor struktural penyebab konflik kekerasan telah benar-benar kondusif bagi meledaknya konfrontasi terbuka antar-etnis  yang saling memendam rasa permusuhan. Tindakan saling melecehkan simbol-simbol etnis semakin lebih terbuka. Budaya mulai sering dieksploitasi perbedaannya… Bilamana tahap kedua tersebut gagal diturunkan tensinya, maka akan menginjak babak berikutnya, yakni konflik kekerasan anatar-etnis  secara terbuka… Akhirnya sampai ke tahap  atau faase keempat, yaitu  tahap peredaan konflik, pada tahap ini setiap hal yang mengarah kepada timbulnya konflik baru harus segera ditangkal sedini mungkin…

Mencermati apa yang telah diuraikan tentang fase-fase konflik terlihat bahwa  pada setiap fase dimungkinkan untuk terjadinya peneyelesaian konflik. Gambaran tentang fase ini juga menunjukkan bahwa  konflik etnis mungkin akan dapat berhenti dengan sendirinya tanpa harus melalui keempat fase tersebut.  Yang penting dari itu semua adalah bagaimana mencegah konflik sosial baik yang berlatar belakang agama, etnis, politik maupun ekonomi.  Cara yang bisa dilakukan adalah dengan memenej konflik atau potensi konflik. Salah satu bentuk manajemen konflik yang dapat dilakukan adalah melalui proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah).
Dalam hal ini terlihat bahwa  terdapat beban yang sangat berat bagi pendidikan kita terutama pendidikan moral atau proses sosialisasi tentang keberagamaan dan makna dari keberagaman tersebut bagi kehidupan. Oleh karena itu sudah seharusnya kita mulai memikirkan pendidikan multikultur yang  mengembangkan konsep toleransi, saling menghargai, saling menghormati dan saling menyadari tentang sebuah perbedaan. Para pendidik harus bekerja keras untuk melakukan reorientasi pembelajaran agama kepada para peseta didik dengan tetap mensosialisasikan nilai-nilai dan norma agama dari masing-masing agama yang diajarkan tetapi dengan mengembangkan konsep multiculturalism education /learning. Karena dengan begitu mekanisme manajemen konflik akan bisa dilaksanakan. Tentunya dengan didukung kebijakan pemerintah tentang pendidikan moral,  agama dan sosial.

C.     Antara Pendidikan Multikultural dan Pendidikan Berbasis Masyarakat

Undang-undang Pendidikan Nasional menyuratkan tentang pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education, lihat Soedijarto, 2000, hal 77) yang didalamnya disebutkan bahwa Pendidikan Berbasis Masyarakat adalah :
Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk masyarakat.

Lebih lanjut dalam Bagian Kedua Pasal 55 tentang pendidikan berbasis masyarakat diuraikan :
(1)               Masyarakat berhak meneyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan  kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
(2)               Penyelenggara pendididkan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan  kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan
(3)               Dana penyelenggaraan pendidikan  berbasis masyarakat dapat  bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Paerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4)               Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan  merata dari Pemerintah  dan/atau pemerintah Daerah
(5)               Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah.

Dari ketentuan yang tersurat dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terlihat bahwa pendidikan berbasis masyarakat ditujukan untuk memperoleh output pendidikan  yang dapat berperan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun penulis kuatir, keberadaan dari pendidikan  berbasis masyarakat ini justru akan menajamkan friksi  kemajemukan masyarakat bangsa Indonesia, karena dengan penyelenggaraan pendidikan yang  diselenggarakan berdasarkan karakteristik wilayah, sosial dan budaya masayarakat Indonesia maka ego kedaerahan akan semakin  tinggi dan ini sangat berbahaya.
Namun bila pendidikan berbasis masyarakat tersebut ditujukan untuk menyelesaikan masalah krisis ekonomi di Indonesia yang kemudian mempengaruhi kemampuan negara untuk menyediakan dana pendidikan, hal ini dapat diterima. Tetapi bila model penddidikan ini akan terus dikembangkan, saya yakin akan terus dikembangkan sebab terligitimasi dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003. Maka yang perlu diantisipasi adalah kemungkinann  adanya  keberagaman dalam mutu pendidikan, yang disatu sisi hal ini akan mendukung otonomi daerah dan juga otonomi pendidikan, tetapi di sisi lain memiliki kemungkinan yang besar dalam mengancam intergrasi nasional serta mempengaruhi keberhasilan dari pembangunan karakter manusia Indonesia.

Lain dari itu terlihat juga adanya kemungkinan negara, melepas tanggung jawab dalam pembiayaan penyelenggaraan  pendidikan dimasing-masing wilayah penyelenggara, hal ini akan sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, perubahan  keempat tentang diharuskannya negara menyediakan dana pendidikan sekuarang-kurangnya sebesar 20 % dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBN dan APBD). Seperti terlihat pada penyempurnaan pasal 31 dann 32, yang natara lain (Soedijarto, 2003, hal 2):
“mewajibkan pemerintah untuk membiayai sepenuhnya pendidikan wajib  belajar (0asal  31 ayat (2))”, “mewajibkan negara menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN dan APBD (pasal 31 ayat (4)).”
Dugaan itu ternyata memang tidak salah, sebab tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat adalah  untuk mengatasi dampak krisis ekonomi  terhadap pendidikan (Soedijarto, ibid, hal 77)
Sementara pendidikan multi-kultural  tersurat dalam beberapa pasal Undang-Undang Sisdiknas, antara lain pasal 3 yang menyatakan bahwa :
“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulai, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Kalimat menjadi warga negara yang demokratis  serta bertanggung jawab menunjukkan adanya tekad untuk melaksanakan pendidikan multikultur. Lebih lanjut dalam pasal 4 Undang-undang ini diuraikan bahwa :
(1)                Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
(2)                Pendidikan diselenggarakan sebgai suatu kesatuan yang sitemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
Kedua ayat dalam pasal empat tersebut menyuratkan dan menyiratkan tentang pentingnya pendidikan multikultur dalam rangka mendukung proses demokratisasi dan dalam rangka terciptanya integrasi nasional.
Apa itu pendidikan multikultural (multicultural education) ? Ada banyak pengertian tentang ini, diantaranya adalah :
1.               Multicultural education is a process through which individuals’ development ways of perceiving, evaluation in behaving within cultural systems, are different from their own (Gibson 1984, in Hernadez, 2001 in Semiawan 2003, pp 6)
2.               we may define multicultural education as the process whereby a person “develops competencies in multiple systems of standards for perceiving, evaluating, believeing and doing “(Saifuddin based on Goodenough definition, 2003, pp. 4)
3.               Muticultural education is a progresseve approach for transforming education that holistically critiques and addresses current shortcomings, failings, and discriminatory practices in education. It is grounded in ideals of social justice, education equity, and a dedication to facilitating educational experiences in which all students reach their full potential as learners and as socially aware and active beings, locally, nationall, and globally. Multicutural education acknowledges that schools are essensial to laying the foundation foor transformation of society and the elimination off oppression and justice.(Budianta, 2003, pp. 8)
4.               Multicultural education as ‘a philosophy, a methodology for educational reform” or “just a set of teaching materials with pedagogical program.” (Gay dalam Budianta, 2003, hal 8)
Dari beberapa definisi tentang multicultural education terlihat bahwa  multi cultural education  sangat relevan dilaksanakan dalam mendukung proses demokratisasi, dimana adanya pengakuan hak asasi manusia,  tidak adanya diskriminasi dan  diupayakannya keadilan sosial. Disamping itu dengan pendidikan multikultural ini dimungkinkan  seseorang  dapat hidup dengan tenang di lingkungan kebudayaan yang berbeda dengan yang dimilikinya.
Seperti telah diuraikan di muka bahwa masyarakat kita ini masyarakat majemuk dan bahkan paling majemuk di dunia. Karena itu agar kemajemukan ini tidak berkembang menjadi ancaman disintegrasi harus diupayakan untuk dikelola. Bagaimaana pengelolaannya ? Pendidikan  salah satu jawaban utamanya.   Proses pembelajaran tentang manusia Indonesia harus merupakan mata pelajaran wajib di seluruh tingkatan  jenjang pendidikan. Guru, kurikulum, sarana- prasarana, gbpp dan berbagai hal yang diperlukan untuk suatu proses pembelajaran yang mendukung multikulturalisme harus disediakan oleh negara. Mengapa negara ? Negara adalah otoritas tertinggi dalam penyelenggaraan pendidikan.  Untuk membentuk manusia Indonesia yang bercirikan ke-Indonesiaan diperlukan adanya penyeragaman dalam beberapa mata pelajaran yang bersifat umum seperti Bahasa Indonesia, Sosia-Budaya Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Perbandingan Agama. Mata pelajaran ini adalah mata pelajaran yang mutlak harus diberikan untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Selain tentunya mata pelajaran olah raga dan kesenian. Selama ini proses pembelajaran lebih cenderung mengupayakan penyeragaman, dan kurang memperhatikan keragaman masyarakat bangsa Indonesia.
Berbeda dengan pendidikan berbasis masyarakat, dimana  model seperti ini akan lebih banyak menimbulkan friksi-friksi dalam masyarakat  karena yang ditonjolkan justru ciri kedaerahan  yang justru berbeda dengan daerah lainnya. Model ini juga  akan  banyak menimbulkan masalah ketika kita membicarakan standar kualitas. Walaupun disebutkan bahwa standar kualitas yang digunakan adalah standar nasional, tetapi  dengan kemungkinan penyelenggaran evaluasi sendiri dan penentuan kurikulum sendiri serta  sarana dan prasanan pembelajaran sendiri  dan kesejahteraan guru juga sendiri, maka penulis sangat kuatir bahwa pendidikan model ini justru akan semakin mempersulit terwujudnya integrasi nasional dan sekaligus akan mempersulit terwujudnya  manusia Indonesia seutuhnya, dengan karakteristik Indonesia yang berbudaya Indonesia dan hidup dalam sistem sosial dan politik Indonesia.  Ini tantangan bagi dunia pendidikan  dimana pendidikan dihadapkan pada konteks desentralisasi dan integrasi nasional, yang menuntut pemikiran yang cermat dalam menentukan strategi pendidikan sebagai upaya untuk membangun karakter bangsa yang diwarnai dengan kemajemukan.

D.    Empat Pilar Pendidikan dan Masalah Kemajemukan
Dalam buku laporannya ke UNESCO, Jacques Delors, et. al., (1996, hl. 85-97) mengemukkan bahwa ada empat buat sendi/pilar pendidikan, yaitu :
1.      Learning to know (belajar untuk mengetahui)
2.      Learning to do (belajar untuk berbuat)
3.      Learning to live togather, learning to live with others (belajar untuk hidup bersama)
4.      Learning to be ( belajar untuk menjadi seseorang)

Dalam Pointers and Recommendations, Delors et.al.(hal. 97) mengemukakan  bahwa :
Learning to know, dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan  keseempatan untuk mempelajari secara mendalam pada sejumlkah kecil mata pelajaran. Pilar ini juga berarti juga learning to learn (belajar untuk belajar), sehingga memperoleh keuntungan dari kesempatan-kesempatan pendidikan yang disediakan sepanjang hayat.
Learning to do, untuk memperoleh  bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program  bergantian antara belajar dan bekerja.
Learning to live together, learning to live with others , dengan jalan mengembangkan pengertian  akan orang lain dan apresiasi atas interdependensi—melaksanakan proyek-proyek bersama dan belajar memenej konflik—dalam semangat menghormati nilai-nilai kemajemukan, saling memahami dan perdamaian.
Learning to be, sehingga dapat mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat pertimbangan  dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar, ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan berkomunikasi.
Dari keempat pilar pendidikan di atas terlihat bahwa pilar learning to live toggether, learning to live with others, dalam konteks kemajemukan merupakan suatu pilar yang  sangat penting. Pilar ini sekaligus juga menjadi pembenar pentingnya pendidikan multikultur yang berupaya untuk mengkondisikan supaya peserta didik mempunyai kemampuan untuk bersikap toleran terhadap orang lain, menghargai orang lain, menghormati orang lain dan sekaligus yang bersangkutan mempunyai tanggunga jawab terhadap dirinya serta orang lain. Sehingga bila proses pembelajaran di sekolah diarahkan tidak hanya pada learning to know, lerning to do dan leraning to be, tetapi juga diarahkan ke learning to live together,  masalah kemajemukan akan dapat teratasi dengan melakukan manajemen konflik dan dengan demikian akan juga diikuti oleh tumbuhnya kebudayaan nasional yang tidak melupakan kebudayaan daerah, tumbuhnya bahasa nasuonal dengan tidak melupakan bahasa daerah, tumbuhnya  sistem politik nasional dengan tanpa mengabaikan sistem politik daerah, (pemerintahan daerah). Secara umum akan tumbuh dan berkembang Sistem Sosial Indonesia, yang berbeda dari Sistem Sosial Amerika, Sistem Sosial Jepang, Sistem Sosial negara-negara lainnya. It is Indonesia so we are Indonesians. Go for it !!!.


E.     Catatan Penutup

Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa catatan penutup :
    1. Kemajemukan harus dipandang sebagai suatu anugrah untuk pencapaian kualitas hidup masyarakat Bangsa indonesia
    2. Bahwa Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional telah mengakomodir pendidikan multikulur untuk mencapai keharmonisan dalam kemajemukan serta untuk mencapai kehidupan Indonesia yang demokratis.
    3. Bahwa ada dilema antara penyelenggaraan model pendidikan berbasis masyarakat dengan pendidika  multikultural, dimana tujuan awal dari keduanya berbeda. Namun begitu  untuk mengoptimalkan potensi daerah terutama dalam hal pembiayaan penyelenggaraan pendidikan , sesuai dengan konteks otonomi daerah, pendidikan berbasis masyarakat  perlu dipikirkan formatnya, supaya penyelenggaraannya tidak semata-mata untuk menyelesaikan kekurangan dana dari negara, tetapi untuk mendukung terlaksananya pendidikan multikultur yang  ditujukan agar tercapai kehidupan Indonesia yang harmonis dan berkualitas dengan karakter Indonesia.
    4. Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan multikultural, diperlukan perubahan paradigma pendidikan, dan karenanya diperlukan peningkatan kompetensi pendidik  untuk mewujudkannya, reformasi kurikulum yang mengarah pada pengakuan dan pengejawantahan kemajemukan masyarakat, serta penyusunan kembali teks books.
    5. Pendidikan  adalah investasi oleh karena itu,  penyediaan dana yang cukup, paling tidak sesuai dengan ketentuaan dalam Undang-undang Dasar 1945  penyempurnaan yang keempat, yaitu sekurang-kurangnya 20 % dari APBN dan APBD, dapat segera terwujud. Tentunya dengan catatan dana tersebut tidak digerogoti oleh para koruptor yang bekerja di bidang pendidikan.
    6. Kita ini orang Indonesia, maka pendidikan kita juga harus pendidikan yang sesuai dengan kepentingan Indonesia, tertutama kepentingan untuk mewujudkan karater Indonesia dengan kemajemukannya.













DAFTAR PUSTAKA


Delors, Jacques, et.al., Learning : The Treasure Within, Report to UNESCO of the International Commissions on Education for the Twenty-fisrt Century, France: UNESCO Publishing, 1996.

Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, Jakarta : Rajawali, C.V., 1984.

Nitibaskara, Tubagus Ronny Rahman, Paradoks Konflik dan Otonomi Daerah: Sketsa Bayang-bayang Konflik Dalam Prospek Maasa depan Otonomi Daerah, Jakarta: Peradaban, 2002.

McNeil, John D., Curriculum: A Comprehensive Introduction, Boston/Toronto: Little Brown and Company, 1977.

Soedijarto, Pendidikan Nasional sebagai wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara-Bangsa, CINAPS, 2000

Suyanto dan Djihad Hisyam, Refleksi dan Reformasi: Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2000.

Zastrow, Charles, Social Problems: Issues and Solution, Australia/Canada/Denmark/Japan/Mexico/New Zealand/Philipines/Puerto Rico/Singapore/Spain/United Kingdom/United States: Wadsworth, 2000.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Makalah:

Azra, Azyumardi, “From Civic Education to Multicultural Education: With Reference to the Indonesian Experience,” Paper presented at Workshop” Multicultural Education in Southeast Asian Nations : Sharing Experience, Univensity of Indonesia, Depok 17-19 June 2003.

Buadianta, Melani, “ Multiculturalism: In Search of a Framework For Managing Diversity in Indonesia,” Paper presented at Workshop Multicultural Education in Southeast Asian Nations : Sharing Experience, Univensity of Indonesia, Depok 17-19 June 2003.

Saifuddin, Achmad Fedyani, “Multicultural Education: Putting School First (A Lesson from the Education Autonomy Policy Implementation in Indonesia),” Paper presented at Workshop” Multicultural Education in Southeast Asian Nations : Sharing Experience, Univensity of Indonesia, Depok 17-19 June 2003.

Semiawan, Conny, “Toward Multicultural Education,” Paper presented at Workshop” Multicultural Education in Southeast Asian Nations : Sharing Experience, Univensity of Indonesia, Depok 17-19 June 2003.
Soedijarto, “Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Mmemajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagain Pusat Pembudayaan,” Disajikan dalam Pra Kongres Kebudayaan V Th. 2003, di Denpasar, Bali, April 2003.













































DAFTAR RIWAYA HIDUP









Dadang Sudiadi lahir di Ciamis  pada tanggal 16 Juni 1966, sekarang beralamat di Jl. Jend. Sudirman Rt 03/I No. 9 Bekasi, telp. 021 88960627. Pendidikan SD ditempuh di SDN Kertajaga-Ciamis lulus tahun 1979, SLTP di SMPN Rancah-Ciamis, lulus tahun 1982, SLTA di SMAN Ciamis, lulus tahun 1985 kemudian melanjutkan studi ke Jusan Kriminologi FISIP Universitas Indonesia  dan mencapai gelar S1 pada tahun 1992. Pada tahun  tahun 2001 berhasil meraih gelar MSi dari PPs UI Progran studi Sosiologi kekhususan  Kriminologi. Mulai tahun 2003 tercatat sebagai peserta Program Doktor di PPs UNJ Program Studi Manajemen Pendidkan.

Sekarang bekerja sebagai Staf pengajar di Departemen Kriminologi FISIP-UI, sekaligus menjabat sebagai Ketua Program Sarjana Reguler Departemen Kriminologi FISIP-UI, sebelumnya pernah menjabat sebagai Koordinator Jurusan Kriminologi Program Ekstensi FISIP-UI dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Kriminologi FISIP-UI, dari tahun 1994 – 1997. Pernah juga menjadi guru di MTs Al Huda Al Islamiyah Bekasi, hingga tahun 1993.


Pengertian digital dan Sistem Digital

Mendesai Kemanan Sistem Jaringan


Metode Keamanan Jaringan
Dalam  merencanakan  suatu  keamanan  jaringan,  ada  beberapa  metode  yang  dapat
ditetapkan, metode-metode tersebut adalah sebagai berikut : 


1.    Pembatasan akses pada suatu jaringan
Ada beberapa konsep dalam pembatasan akses jaringan, yakni sebagai berikut :
a.    Internal Password Authentication
Password  local untuk  login  ke  sistem  harus  merupakan  password  yang  baik  serta
dijaga dengan baik. Pengguaan aplikasi shadow password akan sangat membantu. 
b.    Server Based password authentication
Termasuk  dalam  metoda  ini misalnya  sistem  Kerberos  server,  TCP-wrapper,  dimana
setiap  service  yang  disediakan  oleh  server  tertentu  dibatasi dengan  suatu  daftar  host
dan user yang boleh dan tidak boleh menggunakan service tersebut
c.    Server-based token authentication
Metoda  ini  menggunakan  authentication  system  yang  lebih  ketat,  yaitu  dengan
penggunaan  token  /  smart  card,  sehingga  untuk  akses  tertentu  hanya  bisa  dilakukan
oleh login tertentu dengan menggunakan token khusus.
d.    Firewall dan Routing Control 

Firewall melindungi   host-host  pada  sebuah  network  dari berbagai serangan.  Dengan
adanya  firewall,  semua  paket  ke  sistem  di belakang  firewall dari jaringan  luar  tidak
dapat dilakukan langsung. Semua hubungan harus dilakukan dengan mesin firewall


2.    Menggunakan Metode dan mekanisme  tertentu
•    Enkripsi
Salah satu cara pembatasan akses adalah dengan enkripsi. Proses enkripsi meng-encode
data dalam bentuk yang hanya dapat dibaca oleh sistem yang mempunyai kunci untuk
membaca  data.  Proses  enkripsi dapat  dengan  menggunakan  software  atau  hardware.
Hasil enkripsi disebut cipher. Cipher kemudian didekripsi dengan device dan kunci yang
sama  tipenya  (sama  hardware/softwarenya,  sama  kuncinya).  Dalam  jaringan,  sistem
enkripsi harus  sama  antara  dua  host  yang  berkomunikasi.  Jadi diperlukan  kontrol
terhadap  kedua  sistem  yang  berkomunikasi.  Biasanya  enkripsi digunakan  untuk  suatu
sistem yang seluruhnya dikontrol oleh satu otoritas

Terminologi Kriptografi
Kriptografi  (cryptography)  merupakan  ilmu  dan  seni untuk  menjaga  pesan  agar
aman. (Cryptography is the art and science of keeping messages secure. [40]) “Crypto”
berarti “secret”  (rahasia)  dan  “graphy”  berarti  “writing”  (tulisan)  [3].  Para  pelaku  atau
praktisi kriptografi disebut cryptographers. Sebuah algoritma kriptografik (cryptographic
algorithm),  disebut    cipher,  merupakan  persamaan  matematik  yang  digunakan  untuk
proses enkripsi dan dekripsi. Biasanya kedua persamaan matematik (untuk enkripsi dan
dekripsi) tersebut memiliki hubungan matematis yang cukup erat.

Terminologi Enskripsi - Dekripsi
Proses  yang  dilakukan  untuk  mengamankan  sebuah  pesan  (yang  disebut
plaintext)  menjadi pesan  yang  tersembunyi  (disebut    ciphertext)  adalah  enkripsi
(encryption).    Ciphertext  adalah  pesan  yang  sudah  tidak  dapat  dibaca  dengan  mudah.
Menurut ISO 7498-2, terminologi yang lebih tepat digunakan adalah “encipher”. Proses
sebaliknya,  untuk  mengubah    ciphertext  menjadi   plaintext,  disebut  dekripsi
(decryption). Menurut ISO 7498-2, terminologi yang lebih tepat untuk proses ini adalah
“decipher”. 

•    Digital Signature
Digunakan  untuk  menyediakan  authentication,  perlindungan,  integritas,  dan  non-
repudiation
•    Algoritma Checksum/Hash
Digunakan  untuk  menyediakan  perlindungan  integritas,  dan  dapat  menyediakan
authentication
•    Satu atau lebih mekanisme dikombinasikan untuk menyediakan security service

3.    Pemonitoran terjadwal terhadap jaringan

Dengan  adanya  pemantauan  yang  teratur,  maka  penggunaan  sistem  oleh  yang  tidak
berhak  dapat  dihindari /  cepat  diketahui.  Untuk  mendeteksi aktifitas  yang  tidak  normal,
maka  perlu  diketahui aktifitas  yang  normal.  Proses  apa  saja  yang  berjalan  pada  saat
aktifitas  normal.  Siapa  saja  yang  biasanya  login  pada  saat  tersebut.  Siapa  saja  yang
biasanya    login  diluar  jam  kerja.  Bila  terjadi keganjilan,  maka  perlu  segera  diperiksa.  Bila hal-hal yang mencurigakan terjadi, maka perlu dijaga kemungkinan adanya intruder.

Metodologi    keamanan  informasi    bertujuan  untuk  meminimalisasi    kerusakan  dan
memelihara keberlangsungan bisnis dengan memerhatikan semua kemungkinan kelemahan dan
ancaman  terhadap  aset  informasi.  Untuk    menjamin  keberlangsungan    bisnis,  metodologi
keamanan  informasi   berusaha  memastikan  kerahasiaan,  integritas  dan  ketersediaan  aset
informasi internal.  Hal ini termasuk  penerapan    metode  dan  kontrol manajemen    risiko.  Pada dasarnya, yang dibutuhkan adalah rencana yang bagus  dan  meliputi  aspek administratif, fisik, serta teknis dari keamanan informasi. 
Beberapa  Langkah  dalam  perancangan  Sistem  dengan  memperhatikan  aspek  Keamanan Jaringan :
1.    Menentukan topologi jaringan yang akan digunakan.
2.    Menentukan kebijakan atau policy . 
3.    Menentukan aplikasi – aplikasi atau servis-servis apa saja yang akan berjalan.
4.    Menentukan  pengguna-pengguna  mana  saja  yang  akan  dikenakan  oleh  satu  atau  lebih aturan firewall.
5.    Menerapkan kebijakan, aturan, dan prosedur dalam implementasi firewall.
6.    Sosialisasi kebijakan, aturan, dan prosedur yang sudah diterapkan. 

Arsitektur sistem IDS 
 
Intrusion Detection System (IDS) pada implementasi tugas akhir ini  tediri dari komponen 
komponen / modul : 
1.    Sensor modul
2.    Analyzer modul
3.    Database system  


 Sensor  berfungsi untuk  mengambil data  dari jaringan.  Sensor  merupakan  bagian  dari
sistem  deteksi  dini  dari  IDS.  Untuk  itu  digunakan  suatu    program  yang  berfungsi sebagai intrusion  detector  dengan  kemampuan  packet  logging  dan  analisis  traffik  yang  realtime.
Analyzer berfungsi untuk  analisa paket yang lewat pada jaringan. Informasi dari analyzer yang
akan menjadi input bagi sistem lainnya.  Salah satu perangkat lunak yang sering digunakan pada IDS adalah snort, karena snort mempunyai kemampuan    menjadi sensor  dan  analyzer  serta  sesuai untuk  diterapkan  pada rancangan sistem keamanan. Arsitektur  Sistem  AIRIDS  Automatic  Interactive  Reactive  Intrusion  Detection System AIRIDS  merupakan  suatu  metode  kemanan  jaringan  yang  bertujuan  untuk  membentuk suatu  arsitektur  sistem keamanan  yang  terintegrasi antara  Intrusion  Detection  System  (IDS),Firewall System, Database System dan Monitoring System.

komponen-komponen / modul  AIRIDS berupa :
1.    Intrusion detection system (IDS)
a.    Sensor modul
b.    Analyzer  modul
2.    Database system 
3.    Monitoring system
4.    Firewall system
5.    SMS system (optional)